kievskiy.org

Kasus Meninggalnya Pelajar SMP di Bandung, Kepala Korban Retak

Pembongkaran makam korban penganiayaan atas nama R alias Iko (17) di Cigirincing, Cijambe, Kota Bandung pada Kamis, 16 Mei 2024.
Pembongkaran makam korban penganiayaan atas nama R alias Iko (17) di Cigirincing, Cijambe, Kota Bandung pada Kamis, 16 Mei 2024. /Pikiran Rakyat/M Iqbal Maulud

PIKIRAN RAKYAT - Tim forensik telah melakukan autopsi terhadap pelajar SMP berinisial R alias Iko (17). Korban ini dianiaya hingga meninggal dunia oleh temannya GDH (15) dan AJ (17) pada tanggal 2 April 2024 lalu. Hasilnya, korban mengalami retak kepala akibat dihantam oleh benda keras.

Kasatreskrim Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Abdul Rahman mengatakan autopsi dilakukan terhadap korban setelah penyidik membongkar makam korban atau ekshumasi di TPU Cijambe, Kota Bandung, Kamis, 16 Mei 2024 silam. Hasilnya korban mengalami retak kepala.

"Hasil autopsi setelah ekshumasi, ditemukan retakan di kepala diakibatkan hantaman yang begitu keras," ucapnya pada Selasa, 21 Mei 2024.

Abdul Rahman mengatakan korban mengalami pembengkakan di bagian atas dan belakang kepala. Kronologis kejadian tersebut kata Abdul Rahman dikarenakan para pelaku merasa sakit hati.

Abdul Rahman mengatakan kedua pelaku menendang perut dan memukul dada korban di Jalan Pesantren, Arcamanik, Kota Bandung pada 2 April lalu. Terdapat warga setempat yang melerai hingga akhirnya korban diantar temannya ke rumah korban dengan motor.

Namun, ia mengatakan GDH mengejar korban menggunakan sepeda motor hingga memukul bagian kepalanya menggunakan tongkat. Akibat pukulan tersebut, korban langsung mengerang kesakitan dan kejang-kejang. 

Setelah peristiwa itu, Abdul Rahman mengatakan korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun, pada tanggal 6 April meninggal dunia dan orang tua korban melaporkan pelaku tanggal 17 April.

Abdul Rahman juga menambahkan pelaku telah ditahan di Lapas khusus anak sejak tanggal 15 Mei kemarin. Kedua pelaku dijerat pasal 170 KUHP tentang tindakan kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama. 

"Selain itu mereka dijerat dengan pasal 80 undang-undang perlindungan anak nomor 23 Tahun 2002," katanya.***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat