kievskiy.org

Nasib Muram Guru-Guru Honorer di Wilayah Terpencil Jawa Barat yang Tak Lolos Seleksi PPPK

Ivan Abdurrahman Junianto (32), guru honorer tiba di tempat mengajarnya di SD Negeri Cibungur Kelas Jauh Cijuhung, Kampung Cijuhung, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (14/10/2021). Nasib muram dialami sejumlah guru honorer di wilayah terpencil Jawa Barat yang tak lolos seleksi PPPK.
Ivan Abdurrahman Junianto (32), guru honorer tiba di tempat mengajarnya di SD Negeri Cibungur Kelas Jauh Cijuhung, Kampung Cijuhung, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (14/10/2021). Nasib muram dialami sejumlah guru honorer di wilayah terpencil Jawa Barat yang tak lolos seleksi PPPK. /Pikiran Rakyat/Bambang Arifianto

PIKIRAN RAKYAT - Nasib sejumlah guru honorer di wilayah terpencil Jawa Barat yang tak lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)‎ sungguh memilukan. Pengabdian bertahun-tahun di lokasi terpencil dengan akses jalan yang buruk tak masuk afirmasi atau kebijakan nilai tambahan agar mempermudah lolos tes. 

Pikiran Rakyat mengajak pembaca mengikuti perjalanan tenaga pengajar tersebut, merasakan pengabdian tanpa pamrih mereka yang oleh pemerintah pun tak dimudahkan untuk menanggalkan status honorernya.

Matahari naik sepenggalah kala ‎Ivan Abdurrahman Junianto (32) memacu sepeda motornya menerobos jalan aspal terkelupas di area perkebunan karet di Pasir Ucing, Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 14 Oktober 2021.

Kondisi aspal terkelupas berganti batu-batu yang bertebaran di badan jalan saat laju motor memasuki Kampung Cibungur, Desa Margaluyu yang masih berada di kawasan Cipeundeuy. Hutan pohon karet berubah menjadi hamparan kebun-kebun coklat.

Baca Juga: Selain Tudingan Politis, Riza Patria Ungkap Anggaran Penyelenggaraan Formula E yang Sudah Dibayarkan

Jalan tambah berbatu saja sehingga sepeda motor jenis trail modifikasi yang dikemudikan guru SD Negeri Cibungur Kelas Jauh Cijuhung itu terus berguncang hebat. Sesekali Ivan mengangkat kaki guna menyeimbangkan motor yang terantuk bebatuan. 

Guna mengakali medan yang berat dan memangkas jarak, sejumlah jalur setapak beralas tanah yang menyempal dari jalan utama jadi opsi lintasannya.

Jalur setapak tersebut memang lebih enak dilindas ban motor Ivan. Namun di beberapa titik, jalur tersebut berlumpur dan licin. Medannya yang naik turun membuat guru honorer itu lagi-lagi mesti menjulurkan kaki untuk menahan beban kendaraan serta menyeimbangkannya. Hari itu memang Ivan tengah menuju SD Negeri Cibungur Kelas Jauh Cijuhung yang berlokasi di Kampung Cijuhung, Desa Margaluyu.

Baca Juga: Seorang Pria di China Dijatuhi Hukuman Mati karena Membunuh Mantan Istrinya Selama Siaran Langsung

Kampung tersebut terbilang sangat terpencil. Dari rumah Ivan di Kampung Ciwaru, Desa Bojongmekar, butuh waktu sekira satu jam dengan jarak tempuh sembilan kilometer guna tiba di sekolah. Waktu tempuh bahkan bisa bertambah setengah jam lagi apabila hujan. 

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat