kievskiy.org

Sidang Praperadilan Kasus Vina Cirebon: Hakim Kabulkan Gugatan Pegi Setiawan

Pegi Setiawan, tersangka kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon.
Pegi Setiawan, tersangka kasus pembunuhan Vina dan Eky di Cirebon. /Antara/Raisan Al Farisi

PIKIRAN RAKYAT - Hakim tunggal Eman Sulaeman mengabulkan gugatan praperadilan yang diajukan oleh Pegi Setiawan, tersangka kasus penghilangan nyawa Vina dan Eky di Cirebon pada 2016 silam. Dalam putusan setebal 115 halaman yang dibacakan hari ini, hakim menyatakan bahwa penetapan tersangka terhadap Pegi Setiawan tidak sah dan batal demi hukum.

Hakim tunggal memerintahkan penghentian penyidikan, membebaskan pemohon dari tahanan, dan memulihkan hak-hak Pegi Setiawan.

Dengan putusan tersebut, Hakim Eman meminta Pegi segera dibebaskan. "Membebaskan pemohon dari tahanan dan memulihkan hak pemohon," katanya sebagaimana dilaporkan kontributor Pikiran Rakyat Dewiyatini pada Senin, 8 Juli 2024.

Sidang praperadilan Pegi Setiawan telah berlangsung sejak 1 Juli 2024, dimulai dengan pembacaan gugatan dari kuasa hukum. Sidang dilanjutkan keesokan harinya dengan pembacaan jawaban dari Polda Jabar serta replik dan duplik.

Pada 3 Juli 2024, sidang beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak kuasa hukum Pegi Setiawan. Saksi yang dihadirkan antara lain Dede Kurniawan, teman dekat Pegi; Suharsono alias Bondol, teman kerja Pegi; serta Agus dan Riana, pemilik rumah yang dibangun oleh Pegi.

Dalam kesaksiannya, Dede Kurniawan mengaku mendapatkan pesan dari Pegi pada Juli sebelum tewasnya Vina dan Eky, serta pada September setelah kejadian tersebut, yang menyebutkan bahwa Pegi berada di Bandung. Demikian juga Suharsono alias Bondol yang menyatakan bahwa Pegi berada di Bandung saat peristiwa penghilangan nyawa terjadi. Ia mengaku diantar oleh Pegi, adik Pegi, Robi, dan Ibnu dari proyek pembangunan ke jalan raya untuk pulang ke Cirebon.

Sedangkan Agus dan Riana, pemilik rumah yang dibangun oleh Pegi, tidak mengetahui pasti keberadaan Pegi di Bandung saat peristiwa penghilangan nyawa, karena mereka lebih banyak berkomunikasi dengan Rudi Irawan, ayah Pegi yang bertindak sebagai mandor. Pada Kamis, 4 Juli 2024, saksi ahli Prof. Agus Surono yang dihadirkan oleh Polda Jabar menyatakan bahwa penetapan tersangka sah apabila didukung minimal dua alat bukti. Sidang pada Jumat, 5 Juli 2024 beragendakan penyerahan kesimpulan dan selesai dalam waktu singkat.

Saat persidangan, Hakim Eman menyatakan bahwa penyidik Polda Jawa Barat tidak melakukan pemeriksaan terlebih dahulu kepada calon tersangka. Pegi langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat.

Hakim Eman tidak sependapat dengan termohon maupun ahli termohon bahwa penetapan tersangka hanya cukup dengan alat bukti dan tidak perlu ada pemeriksaan calon tersangka. Pendapat Hakim Eman, penetapan tersangka tidak cukup hanya dengan dua alat bukti, namun harus ada pemeriksaan calon tersangka terlebih dahulu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat