kievskiy.org

Sungai Citarum Terkontaminasi 460 Ton Parasetamol dan Amoxcillin 336 Ton, Hasil Penelitian BRIN

Tim Guardian Citarum Harum Sektor 6 membersihkan sampah organik dan plastik yang tergenang di Oxbow Daerah Aliran Sungai Citarum, Kabupaten Bandung, Selasa, 30 April 2024.
Tim Guardian Citarum Harum Sektor 6 membersihkan sampah organik dan plastik yang tergenang di Oxbow Daerah Aliran Sungai Citarum, Kabupaten Bandung, Selasa, 30 April 2024. /Kontributor Pikiran Rakyat/Deni Armansyah

PIKIRAN RAKYAT - Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Hulu di Jawa Barat ternyata terkontaminasi bahan aktif obat atau APIs. Temuan tersebut berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di wilayah tersebut.

Penelitian dilakukan dengan penghitungan konsentrasi bahan aktif obat yang diminum, frekuensi penggunaan obat, jumlah obat yang dikonsumsi, dan berapa lama masa sakit responden dalam setahun.

"Hasilnya, untuk bahan kimia aktif dapat dilihat bahwa ternyata paracetamol dan amoxcillin menjadi APIs dengan penggunaan paling besar di DAS Citarum Hulu," kata Peneliti Kelompok Riset Ekotoksikologi Perairan Darat, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Rosetyati Retno Utami, dikutip dari Antara pada Senin, 8 Juli 2024.

Baca Juga: Warga Cimahi Geger, Jasad Perempuan dan Anak Kecil Mengambang di Sungai Citarum

Rosetyati menemukan penggunaan antibiotik di DAS Citarum Hulu cukup besar, dengan penggunaan paracetamol menjadi posisi tertinggi berjumlah 460 ton per tahun serta amoxcillin 336 ton per tahun.

Adapun sumber-sumber kontaminasi bahan aktif obat yang mungkin masuk ke dalam Sungai Citarum, kata dia, bisa teridentifikasi dari kegiatan peternakan yang dinilai banyak menggunakan obat-obatan dan juga hormon yang bertujuan meningkatkan hasil peternakan, penggunaan obat rumah tangga, industri, dan sistem pengelolaan limbah obat di rumah sakit yang mungkin terdapat kebocoran, sehingga dapat mengakibatkan masuknya obat ke ekosistem akuatik.

Ia menambahkan penanganan masyarakat setempat atas penggunaan bahan aktif obat tersebut dinilai masih kurang, sehingga menimbulkan risiko terhadap pencemaran ekosistem akuatik.

"Jika terjadi kontaminasi di perairan/ekosistem akuatik, tentu saja akan membahayakan bagi organisme akuatik dan juga kesehatan manusia," ujarnya.

Terkait hal tersebut Plt Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Luki Subehi menekankan perilaku masyarakat terhadap penanganan penggunaan obat, termasuk praktik pembuangan obat yang tidak lagi terpakai penting untuk menjadi perhatian lebih lanjut.

Menurutnya, tingkat populasi masyarakat yang tinggi di wilayah sekitar DAS menjadikan hal tersebut menjadi penting agar tidak menambah faktor-faktor yang dapat mencemari sungai.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat