kievskiy.org

Perkara Keterangan Palsu Saksi Aep Perlu Dituntaskan usai Pegi Setiawan Bebas

Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat pada Minggu, 26 Mei 2024 lalu. Polda Jabar kalah dalam Sidang Praperadilan dan harus membebaskan Pegi Setiawan.
Petugas Kepolisian menggiring tersangka kasus pembunuhan Pegi Setiawan untuk dihadirkan pada konferensi pers yang digelar di Gedung Ditreskrimum Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat pada Minggu, 26 Mei 2024 lalu. Polda Jabar kalah dalam Sidang Praperadilan dan harus membebaskan Pegi Setiawan. /Antara/Raisan Al Farisi

PIKIRAN RAKYAT - Perkara siapa sebenarnya pelaku pembunuhan terhadapa Vina dan Eky di Cirebon pada 2016 silam masih harus dituntaskan oleh Polri. Hal ini adalah karena penetapan status Pegi Setiawan sebagai tersangka dalam kasus ini sudah gugur di pengadilan.

Adapun sejumlah permasalahan yang harus dituntaskan usai putusan Pengadilan Negeri Kota Bandung kemarin, di antaranya adalah kelanjutan hukum terhadap saksi Aep yang dianggap memberikan keterangan palsu.

Hal tersebut disampaikan oleh pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel dalam keterangannya pada Senin, 9 Juli 2024.

Baca Juga: DPR Singgung Citra Polri Usai Praperadilan Pegi Setiawan Dikabulkan: Segera Perbaiki

"Keterangannya, sebagaimana perspektif saya selama ini, adalah barang yang paling merusak pengungkapan fakta. Persoalannya, keterangan palsu (false confession) Aep itu datang dari mana? Dari dirinya sendiri ataukah dari pengaruh eksternal? Jika dari pihak eksternal, siapakah pihak itu?" ujar Reza.

Persoalan berikutnya, saksi Sudirman yang terindikasi memiliki perbedaan dari sisi intelektualitas, boleh jadi tergolong sebagai individu dengan suggestibility tinggi.

Dengan kondisi tersebut, kata dia, Sudirman sesungguhnya sosok rapuh. Ingatannya, perkataannya, cara berpikirnya bisa berdampak kontraproduktif bahkan destruktif bagi proses penegakan hukum.

"Perlu pendampingan yang bisa menetralisasi segala bentuk pengaruh eksternal yang dapat 'menyalahgunakan' saksi dengan keunikan seperti Sudirman," ujarnya.

Kemudian, patahnya narasi Polda Jabar bahwa Pegi adalah sosok yang mengotaki pembunuhan berencana, berimplikasi serius terhadap nasib kedelapan terpidana.

Bagaimana otoritas penegakan hukum dapat mempertahankan tesis bahwa kedelapan terpidana itu adalah kaki tangan Pegi? Benarkah mereka pelaku pembunuhan berencana, ketika interaksi masing-masing terpidana (selaku eksekutor) dengan Pegi (selaku mastermind) ternyata tidak pernah ada?

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat