kievskiy.org

Anggaran Makan Siang Gratis Sebaiknya Masuk Dana Desa, Selera Tak Bisa Diseragamkan

Sejumlah siswa menunjukkan makanan gratis saat simulasi program makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/2/2024). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meyediakan 162 porsi dengan empat macam menu makanan sehat senilai Rp15 ribu per porsi pada simulasi program makan siang gratis itu. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
Sejumlah siswa menunjukkan makanan gratis saat simulasi program makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/2/2024). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meyediakan 162 porsi dengan empat macam menu makanan sehat senilai Rp15 ribu per porsi pada simulasi program makan siang gratis itu. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin /Antara/Sulthony Hasanuddin ANTARA FOTO

PIKIRAN RAKYAT - Optimisme mayarakat dengan janji program makan siang gratis dari presiden dan wakil presiden terpilih masih rendah. Meski begitu, diskusi publik terkait program ini masih didominasi seputar dukungan politik dan pembiayaan. Anggota legislatif pun tidak mau kalah dengan melakukan studi banding ke salah satu negara Eropa melihat praktik peternakan, perikanan, dan kehutanan sosial. Sangat jelas bahwa program makan siang masih disikapi dari aspek nutrisi dan ekonomi.

Arti harfiah makan menjadi syarat nilai ketika diberi embel-embel “siang” dan “gratis”. Sebagai kampanye politik, frasa “makan siang gratis” mampu menarik perhatian isi sebagian rakyat Indonesia, dan dapat dibayangkan jika frasa kampanye politik hanya “program makan”. Tambahan frasa “siang” dan “gratis” secara tidak sadar telah menyeret diskusi pada sudut pandang lebih luas yaitu antropologi dan sosial.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meninjau langsung simulasi makan siang gratis di Tangerang pada Kamis, 29 Februari 2024.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meninjau langsung simulasi makan siang gratis di Tangerang pada Kamis, 29 Februari 2024.

Makan sebagai budaya

Dalam sudut pandangan antropologi dan sosial, makan adalah produk budaya manusia sejak dahulu kala dan di dalamnya terdapat nilai-nilai norma, keyakinan, serta interaksi sosial masyarakat.

Kegiatan makan sudah muncul sejak Tuhan menciptakan Adam dan Hawa di bumi, bahkan bayi yang baru lahir ke dunia sudah menerima “makanan” berupa nutrisi ibu selama mengandung dan ketika lahir yang pertama dicari adalah Air Susu Ibu.

Jelas bahwa kegiatan makan sudah melekat sebagai atribut dasar kehidupan manusia, tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga ada kandungan budaya di dalamnya.

Pola pikir bahwa keberhasilan program makan siang ditentukan oleh tersedianya anggaran dan nutrisi yang baik memang penting. Namun, pemerintah ke depan perlu melakukan analisis risiko keberhasilan program ketika diimplementasikan di masyarakat.

Kegiatan makan, bagi manusia, merupakan aktivitas yang dilakukan sebagai cara untuk bertahan hidup dengan nutrisi yang cukup, identitas budaya, dan pengikat sosial, strategi memperoleh makanan dan perdagangan, beradaptasi dengan lingkungan, serta selera dan pantangan.

Unsur-unsur budaya tersebut harus dianalisis dengan teliti dan saksama agar program makan siang tidak menjadi kegiatan yang mubazir menghambur-hamburkan anggaran negara.

Selera tak bisa diseragamkan

Ilustrasi perkebunan teh.
Ilustrasi perkebunan teh.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat