kievskiy.org

Gelontoran Anggaran Bansos Tak Efektif Tekan Angka Kemiskinan

Warga beraktivitas di depan rumahnya di kawasan Gedebage, Kota Bandung, Selasa (2/7/2024). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama dua periode kepemimpinan Presiden Jokowi, angka kemiskinan Indonesia hanya turun sebesar 2,2 persen. Dalam 10 tahun terakhir jumlah penduduk miskin berkurang 3,06 juta orang.*
Warga beraktivitas di depan rumahnya di kawasan Gedebage, Kota Bandung, Selasa (2/7/2024). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama dua periode kepemimpinan Presiden Jokowi, angka kemiskinan Indonesia hanya turun sebesar 2,2 persen. Dalam 10 tahun terakhir jumlah penduduk miskin berkurang 3,06 juta orang.* /Kontributor Pikiran Rakyat/Kholid

PIKIRAN RAKYAT - Bicara tentang kemiskinan sepertinya tak pernah ada habisnya. Begitu sulitnya menurunkan angka kemiskinan di Indonesia, meski sejatinya warga miskin memang tidak akan bisa hilang sepenuhnya. Anggaran triliunan rupiah yang digelontorkan setiap tahunnya untuk menekan jumlah warga miskin, nyatanya tak serta merta menekan tingkat kemiskinan secara signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo, angka kemiskinan di Indonesia hanya turun sebesar 2,2%. Dalam 10 tahun terakhir jumlah penduduk miskin berkurang 3,06 juta orang. Jumlah yang sebenarnya cukup besar, namun jika dibandingkan dengan total penduduk miskin yang jumlahnya mencapai 25,22 juta orang, angka penurunan tersebut relatif sedikit.

Data BPS yang dirilis awal pekan ini, per Maret 2024 tingkat kemiskinan di Indonesia berada di angka 9,03% dari total jumlah penduduk Indonesia. Tercatat ada 25,22 warga miskin di Indonesia. Sementara pada 2014 lalu, jumlah warga miskin berdasarkan data BPS tercatat 28,28 juta orang. Tepat satu dekade, di 2024 jumlah warga miskin turun menjadi 25,22 juta orang.

BPS juga mencatat, ada penurunan 0,33% dibandingkan angka kemiskinan pada Maret 2023. Selain itu BPS juga mencatat rata-rata jumlah penduduk miskin berkurang setidaknya 300 ribu orang per tahun. BPS mengklaim, tingkat kemiskinan di Maret 2024 ini yang sebesar 25,22 juta orang merupakan angka kemiskinan terendah dalam satu dekade terakhir.

Sulitnya menekan angka kemiskinan juga diakui oleh BPS. Pasalnya faktor utama yang menjadi penyebab naiknya angka kemiskinan karena kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Seperti diketahui harga-harga kebutuhan pokok selama beberapa tahun terakhir nyaris konstan ada di harga tinggi, salah satunya harga komoditas beras.

Di sisi lain berbagai macam bantuan sosial yang nilainya fantastis hingga ratusan triliun rupiah, nyatanya tak mampu mengentaskan angka kemiskinan atau setidaknya menurunkannya di angka yang signifikan.

Ilustrasi Bantuan Sosial. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) berpesan kepada masyarakat penerima bantuan sosial (bansos) agar menggunakannya untuk tambahan modal usaha.
Ilustrasi Bantuan Sosial. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) berpesan kepada masyarakat penerima bantuan sosial (bansos) agar menggunakannya untuk tambahan modal usaha.

Sepanjang tahun 2023 saja misalnya, angka bantuan sosial yang tujuan utamanya menekan angka kemiskinan jumlahnya mencapai Rp 443,4 triliun. Anggaran sebesar itu dialokasikan untuk berbagai program mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), kartu sembako, bantuan langsung tunai, subsidi BBM, listrik, bunga KUR, dan juga bantuan pangan.

Belakangan, program bantuan sosial ini pun menjadi perbincangan publik karena dianggap hanya digunakan sebagai alat politik pada masa Pemilihan Umum terutama Pemilihan Presiden 2024. Bahkan program bantuan sosial pun menjadi salah satu materi gugatan dalam sengketa Pemilu beberapa waktu lalu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat