kievskiy.org

Hasil Riset BRIN: Air Tanah DAS Citarum Hulu Masih Relatif Aman, Tidak Tercemar Bromida

Ahli Hidrogeologi-Geomedis di Pusat Riset Sumber Daya Geologi, BRIN, Dr. Rizka Maria.
Ahli Hidrogeologi-Geomedis di Pusat Riset Sumber Daya Geologi, BRIN, Dr. Rizka Maria. /dok. BRIN


PIKIRAN RAKYAT
- Tim peneliti dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan sumber air baku masyarakat yang terletak pada wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum masih alamiah. Hal itu terungkap setelah mengetahui hasil data ilmiah berupa konsentrasi bromide alami pada sumber air baku di wilayah DAS Citarum Hulu sebagai berikut ; Nilai ambang batas bromida pada air tanah adalah 0.5 mg/L (Permenkes RI No 2 Tahun 2023; WHO 2009).

“Secara garis besar, sumber air baku masyarakat yang terletak pada wilayah hulu DAS Citarum yang masih alamiah, di daerah hulu masih relatif aman, jauh dari pengaruh antropogenik dan tidak terdeteksi dari pencemaran bromida.

“Namun di beberapa titik sumber air di wilayah yang dekat dengan wilayah pertanian dan industri aktif memiliki nilai di atas ambang batas dan perlu penelitian lebih lanjut,” jelas Rizka Rizka Maria, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) saat diwawancara di Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (5/6).

Lebih jauh, Rizka menjelaskan bahwa PRSDG melakukan penelitian terhadap kumpulan sampel air tanah untuk memahami konsentrasi bromida dalam air tanah dan untuk mengidentifikasi sumbernya. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui distribusi bromida alami pada air tanah.

“Hasil penelitian ini berfungsi sebagai informasi data dasar untuk mengetahui jejak perunutan bromida pada air tanah dan sebagai pelacak jika ditemukan nilai bromat yang melebihi ambang batas pada air minum dalam kemasan. Oleh karena itu, penelitian mengenai sebaran senyawa bromida pada air tanah sangat penting dilakukan,” terang Rizka.

Penggunaan air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan air minum pada masyarakat. Kualitas air minum dalam kemasan menjadi salah satu hal utama yang harus diperhatikan. Akhir akhir ini isu pencemaran bromat pada air minum dalam kemasan sangat meresahkan masyarakat.

Senyawa bromat (BrO3–) bukan senyawa almiah yang normal berada di air. Bromat memiliki ciri khas tidak berasa, tidak berwarna dan terbentuk pada saat air minum di sterilkan/disinfeksi dengan proses ozonasi. “Bromida alami yang terdapat dalam sumber air minum bereaksi dengan ozon pada saat proses disinfeksi akan menghasilkan senyawa bromat,” sebut Rizka.

Di sisi lain, Rizka menjelaskan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan bromate pada air minum. Dikatakannya, faktor-faktor tersebut antara lain; kandungan pH sumber air, pada air dengan pH tinggi maka reaksi pembentukan bromate akan lebih cepat dibandingkan pada air dengan suhu rendah, konsentrasi ion bromida, semakin tinggi ion bromide dalam airmaka sekin besar kemungkinan terbantuknya bromate pada saat proses ozonasi, jumlah ozon yang digunakan saat proses disinfeksi, serta waktu reaksi dan durasi kontak antara ozon dan ion bromida.

“Semakin lama waktu reaksi maka semain banyak bromate yang terbentuk,” ucap Rizka.

Pengelolaan faktor-faktor tersebut diatas sangat penting untuk meminimalkan pembentukan bromat dalam air minum, sehingga mengurangi potensi risiko kesehatan bagi konsumen. “Berbagai upaya seperti identifikasi pH dan ion bromide pada sumber air, kontrol konsentrasi ozon, penyesuaian pH, dan pengaturan waktu kontak dapat membantu dalam mengurangi pembentukan bromat selama proses ozonasi,” imbuhnya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat