kievskiy.org

Dukung Bobby hingga Silaturahmi Kaesang, Rayuan Maut PKS untuk Keluarga Jokowi?

Ketum PSI Kaesang Pangarep (kedua kiri) berjabat tangan dengan Presiden PKS Ahmad Syaikhu (kedua kanan) di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin, 8 Juli 2024.
Ketum PSI Kaesang Pangarep (kedua kiri) berjabat tangan dengan Presiden PKS Ahmad Syaikhu (kedua kanan) di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin, 8 Juli 2024. /Antara/Bagus Ahmad Rizaldi

PIKIRAN RAKYAT - Usai Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif pada bulan Februari yang lalu, tampaknya suasana koalisi partai mulai mencair. Hal ini terjadi mengingat agenda Pilkada yang tidak kalah pentingnya akan berlangsung dalam tiga bulan mendatang, tepatnya Oktober 2024.

Beberapa partai seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai melakukan manuver sebagai strategi dalam menghadapi Pilkada serentak pada bulan Oktober mendatang. PKS sepertinya tidak tanggung-tanggung untuk mendekati keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mulai dari munculnya wacana PKS mengusung Bobby Nasution pada Pemilihan Gubernur Sumatra Utara sampai pendekatan dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang tidak lain adalah putra bungsu Jokowi.

Berbeda dengan posisi PKS pada Pilpres lalu yang menempatkan diri berseberangan dengan Koalisi 02 yang didukung Jokowi, saat ini PKS cenderung lebih terbuka. Wacana untuk mengusung Bobby maupun berkoalisi dengan PSI bisa menjadi rayuan maut PKS untuk mendekati Jokowi.

Bentuk keseriusan PKS untuk melakukan pendekatan dengan keluarga Jokowi ditunjukkan lewat pertemuan yang berlangsung dengan Ketua Umum di PSI Sekretariat DPP PKS pada Senin, 8 Juli 2024 lalu. Langkah politik ini dapat menjadi rayuan maut PKS untuk melakukan pendekatan serius dengan Jokowi setelah hampir 10 tahun menjadi oposisi pemerintah.

Bukan hanya PKS, sampai saat ini semua partai cenderung untuk mendekati Jokowi melalui pemberian dukungan terhadap anggota keluarganya yang akan maju pada Pilkada mendatang. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh hasil Pilpres 2024 yang menunjukkan bahwa peran Jokowi sangat penting termasuk dalam menentukan kemenangan terhadap proses politik di negeri ini.

Sebelumnya, pascapenetapan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi, PKS juga sudah berupaya melakukan pendekatan dengan Presiden Terpilih Prabowo Subianto menyusul Partai NasDem, meskipun tidak membuahkan hasil. Secara politis, apa yang dilakukan oleh PKS tentunya dengan berbagai pertimbangan mengingat bahwa 10 tahun berada di luar kekuasaan tampaknya tidak terlalu menguntungkan bagi partai berlambang padi dan bulan sabit ini dalam segi kebijakan.

Apa yang dilakukan PKS tentunya bukan fenomena baru dalam perpolitikan di Indonesia, yang mana koalisi yang dibangun pada saat Pilpres cenderung tidak bersifat permanen dan menjadi acuan bagi Pemilihan Kepala Daerah.

Apa yang ditunjukkan oleh partai-partai dalam pembangunan koalisi secara langsung menunjukkan bahwa sejauh ini orientasi partai politik adalah pada kekuasaan. Sedangkan, rakyat hanya objek yang akan lebih sering dikunjungi oleh partai politik hanya pada saat Pemilu. Oleh karena itu, masyarakat perlu untuk lebih rasional dalam menentukan pilihan pada saat Pemilu dengan tidak hanya didasarkan pada janji manis dan rayuan maut para calon.***

Disclaimer: Kolom adalah komitmen Pikiran Rakyat memuat opini atas berbagai hal. Tulisan ini bukan produk jurnalistik, melainkan opini pribadi penulis.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat