kievskiy.org

Transaksi Judi Online Tembus Rp600 Triliun, Bansos bagi Pecandu Bukan Solusi yang Tepat

Ilustrasi judi online.
Ilustrasi judi online. /Pexels/AidanHowe

PIKIRAN RAKYAT - Belum lama ini, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap fakta mencengangkan soal judi online. Kenaikan secara jor-joran terjadi pada 2023 menjadi Rp327 triliun atau melambung tinggi setara 303,70 persen. Selama 2023, tercatat ada 168 juta transaksi judi online di dalam negeri.

Bahkan dalam triwulan pertama 2024, kenaikannya pun tak kalah signifikan. Masuk pada 2024 triwulan pertama ini, transaksinya bahkan sudah mencapai Rp600 triliun.

Diketahui, jumlah pemain judi online di Indonesia sebanyak 3,2 juta orang. Mereka terdiri dari pelajar hingga ibu rumah tangga. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya adalah masyarakat berpenghasilan rendah.

Masyarakat biasanya melakukan deposit dengan nilai sekira Rp100.000 hingga Rp200.000. Hal ini menandakan bahwa perjudian online telah merambah ke berbagai lapisan masyarakat, terutama yang kurang mampu secara finansial.

Judi penyakit masyarakat

Sosiolog dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Elly Malihah mengatakan bahwa secara sosial dan budaya, judi merupakan penyakit masyarakat yang sulit sekali diberantas sejak dulu. Judi merupakan penyakit masyarakat yang hadir jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka.

Bahkan, judi menjadi tradisi yang sudah berlangsung lama di masyarakat seperti sabung ayam, adu domba, dan semacamnya. “Penyebabnya bisa karena spekulasi ingin mencari uang lebih secara cepat dengan mengadu nasib berjudi, bisa juga untuk kesenangan belaka,” kata Elly pada Senin, 17 Juni 2024.

Penyebab judi menjadi sulit dihapus, karena ada unsur ketergantungan (apalagi yang untuk mencari kesenangan). Hal itu lantaran biasanya mereka yang terus berjudi pernah memenangkan perjudian tersebut dan merasakan “senang”, sehingga keinginan terus “menang” menjadi tantangan tersendiri untuk terus mengadu keuntungan.

Judi online menjadi salah satu bentuk dari judi yang sudah lama berlangsung tersebut. Perbedaannya hanya terletak pada medium dan bagaimana mekanisme judi itu dilakukan.

Kebiasaan berjudi bisa sangat berbahaya, karena tak hanya menimpa anak-anak, melainkan hingga orangtua. Semua seringkali bisa tergoda dengan hadiah dan iming-iming, baik dari iklan maupun cerita sukses dari temannya yang pernah memenangkan judi online. Candu alias adiksi yang dirasakan (sama seperti narkoba), bisa membuat seseorang lagi dan terus lagi berjudi, hingga lupa “daratan”.

Iklan yang masif pun menggelitik mereka untuk memenangkan permainan, sehingga spekulasi pun dijalani demi menjemput keberuntungan. “Hanya mereka yang terdidik dan menyadari bahwa judi dilarang norma agama dan susila, yang tidak akan tergoda,” tuturnya.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat