kievskiy.org

Telusuri Silsilah Keluarga, Keluarga Asal Belanda Terbang ke Depok

KELUARGA asal Belanda, Maritza Irmgard (56) berkunjung ke Kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein di Jalan Pemuda, Kota Depok, Jumat, 23 Februari 2018. Mereka datang ke Depok guna melacak silsilah keluarganya yang pernah tinggal di sana.*
KELUARGA asal Belanda, Maritza Irmgard (56) berkunjung ke Kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein di Jalan Pemuda, Kota Depok, Jumat, 23 Februari 2018. Mereka datang ke Depok guna melacak silsilah keluarganya yang pernah tinggal di sana.*

MARITZA Irmgard (56) mencoret-coret kertas putih yang tergeletak di depannya siang itu. Di sampingnya, Pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Jozua Dolf Jonathans (85) mengamati coretan nama-nama keluarga yang ditulis itu. Keduanya mulai berbincang dalam bahasa Belanda bertukar informasi terkait nama yang tertera. Maritza tak datang sendiri. Dia didampingi suaminya, Peter Van Der Kruk (54) dan anaknya, Damiaan Aryanto (27) ke Kantor YLCC di Jalan Pemuda, Pancoran Mas, Kota Depok, Jumat, 23 Februari 2018.

Ribuan kilometer ditempuh Maritza dan keluarganya, khusus terbang dari Belanda ke Depok hanya untuk mengetahui silsilah keluarganya. Dia menjemput terlebih dahulu anaknya, Damiaan yang bekerja di Melbourne, kemudian bersama-sama menuju Jakarta. ‎Ya, Maritza memiliki seorang ibu keturunan kaum Depok lama dengan marga Jonathans. Ibunya yang bernama Hanna Sylvia menikah dengan Indo Belanda bernama Guus Pex. Keduanya sempat tinggal di Jalan Siliwangi, Depok sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945.

"Yang pertama, tujuan ke sini mencari silsilah keluarga," kata Maritza. Revolusi Indonesia membuat sebagian kaum Depok lama pindah ke Belanda.

Kaum Depok lama yang merupakan mantan budak pejabat VOC Cornelis Chastelein (1696-1714) dituding pro Belanda. Akibatnya, gelombang kekerasan terjadi kepada Kaum Depok lama oleh kelompok pemuda. Maritza tak mengalami masa mencekam tersebut. Namun, rumah keluarganya di Jakarta dibakar saat itu. "Di sini berbahaya," ucapnya.

Di Depok, terjadi peristiwa Gedoran pada 11 Oktober 1945. Sekelompok pemuda menahan kaum Depok lama di Bogor dan melakukan tindakan kekerasan. Rasa trauma pun membekas. Pada 1949, sebagian kaum Depok lama pindah dan berganti kewarganegaraan Belanda. Sebagian lain bertahan dan tersebar di berbagai kota di Tanah Air. 

Kendati telah puluhan tahun berlalu, Maritza tak lupa asal-usulnya. Jejak Indonesia masih kental pada perempuan kelahiran Den Haag tersebut. Ketiga anaknya diberi nama khas Indonesia yakni Evianne Adinda, Damiaan Aryanto, Ceremco Arjuna. Sang suami, Peter Van Der Kruk mengaku takjub dengan kunjungan itu. Menurutnya, istrinya baru pertama kali menyambangi tanah leluhurnya di Depok. ‎ Tradisi Depok, tuturnya, masih kental di Belanda. Warga Depok lama masih sering berinteraksi dengan menggelar pertemuan rutin. Bahkan, berbagai makanan tradisional Indonesia pun masih sering dibuat di sana. 

12 marga

Sementara itu, Jozua Dolf Jonathans atau yang akrab disapa Opa Dolf mengaku mengenal paman Maritza yang bernama Wim Van Minde. "‎(Waktu itu ) saya umur 5-6 tahun. Kakak saya, PA Jonathans mengajak (Wim) ke rumah," ujar Opa Dolf. Menurutnya, PA Jonathans dan Wim merupakan teman sekolah di Eurropeesche School di Jalan Pemuda. Opa Dolf menuturkan, keluarga Maritza dulu tinggal di sebuah rumah di Jalan Siliwangi, Depok. Kini, rumah tersebut telah berganti penghuni. Selama mengunjungi Depok, keluarga Maritza tinggal di rumah warga Depok lama bermarga Isakh di Jalan Jambu.

Meski kerap diolok-olok sebagai Belanda Depok, nenek moyang kaum Depok lama merupakan orang Indonesia asli. ‎ Para budak Chastelein banyak berasal dari wilayah Sulawesi dan Bali. Mereka terbagi dalam 12 marga dan resmi mendapatkan lahan Depok setelah Chastelein mewariskannya dalam surat wasiat pada 28 Juni 1714.‎ Dua belas  marga tersebut yang menjadi cikal bakal penduduk awal Depok yang mengembangkan lahan pertanian dan memiliki pemerintah otonomi sendiri.

Kedua belas marga awal itu adalah Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Hingga sekarang, keturunan 11 marga itu masih eksis dan menyebar ke berbagai kota di Indonesia dan tinggal di Belanda. Satu marga lain, yakni Zadokh telah hilang.  Identitas marga bisa diketahui dari nama belakang kaum Depok lama yang masih digunakan keturunannya.***

Terkini Lainnya

  • 12 marga

  • Tags

  • keluarga

  • marga

  • Depok

  • Belanda

  • Jabar

  • Artikel Pilihan

  • Terkini

  • Drs Kusmana Hartadji, MM: Konsisten Jalankan Amanah

  • KPU Umumkan Anggota KPU Jabar 2023-2028, Berikut Daftarnya

  • Waspada Angin Kencang di Empat Wilayah Jawa Barat, BMKG Beberkan Faktor Penyebabnya

  • Tangis Haru Dandim 0625 Letkol Yusuf Andriyanto Saat Tinggalkan Pangandaran

  • Sejoli Mesum Asal Garut Pemeran Video Live Streaming Asusila Ditangkap Polisi

  • Polling Pikiran Rakyat

  • Terpopuler

  • Profil Dewi Paramita, Mantan Kekasih Ibrahim Risyad Sebelum Menikah dengan Salshabilla Adriani

  • Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Batang Jawa Tengah Sore Ini

  • Prediksi Skor Argentina vs Kanada di Copa America 10 Juli 2024: Kondisi Tim, Head to Head, dan Susunan Pemain

  • Prediksi Skor Spanyol vs Prancis Euro 10 Juli 2024: Statistik, Head to Head, Susunan Pemain

  • Ibrahim Risyad Diduga Cinlok dengan Salshabilla Adriani Saat Masih Pacaran dengan Dewi Paramita

  • Perjalanan Cinta Ibrahim Risyad dan Salshabilla Adriani, Dikabarkan Menikah Hari Ini 7 Juli 2024

  • Pegi Setiawan Dibebaskan Hari Ini, Hakim: Status Tersangkanya Tidak Sah

  • Jawaban Polri Setelah Pegi Setiawan Dinyatakan Bebas dan Gugur sebagai Tersangka Kasus Vina Cirebon

  • 11 Program Pemerintah Pakai Singkatan Nyeleneh: Siska Ku Intip, Mas Dedi Memang Jantan, dan Jebol Ya Mas

  • Indonesia Diguncang Gempa 8 Kali Hari Ini 7 Juli 2024, Paling Kencang di Batang Jateng

  • Kabar Daerah

  • Pemilih Pemilukada 2024 Majalengka Naik 1.200, Penambahan Berasal dari Para Pemula Berusia Diatas 17 Tahun

  • Polda Kalbar Apresiasi Atas Dilantiknya Ketua Dan Perangkat PWI Provinsi Kalbar ,Oleh Ketua Umum PWI Pusat

  • Akselerasi Disperkimtan Kuningan dalam Upaya Memperbaiki Rutilahu Milik Nenek Sarniti

  • DLH Makassar Perkuat Program Strategis Penataan Sistem Persampahan dari Hulu ke Hilir

  • Minim Kandidat, Pilkada Lambar dan Pilwakot Bandar Lampung Berpotensi Lawan Kotak Kosong

  • Pikiran Rakyat Media Network

  • Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
    Sertifikat Nomor 999/DP-Verifikasi/K/V/2022

Tautan Sahabat