kievskiy.org

BPBD Kuningan Bakal Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana di 15 Desa

Bencana tebing longsor di sekitar perkampungan penduduk salahsatu desa di Kabupaten Kuningan, beberapa waktu lalu.
Bencana tebing longsor di sekitar perkampungan penduduk salahsatu desa di Kabupaten Kuningan, beberapa waktu lalu. /Pikiran Rakyat/Ajun Mahrudin

PIKIRAN RAKYAT - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan,  akan menggelar edukasi dan simulasi terkait upaya penanggulangan bencana di 15 desa dan 11 kecamatan yang rawan bencana di Kabupaten Kuningan. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait upaya mengurangi risiko dampak bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, mengatakan, edukasi dan simulasi kebencanaan adalah upaya untuk meningkatkan peran serta kelompok masyarakat dalam mengurangi risiko dampak bencana.

Selain itu, meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat, pengelolaan sumber daya, dan
memelihara kearifan lokal. Melalui edukasi dan simulasi kebencanaan, diharapkan masyarakat memahami apa yang harus dilakukan, sehingga penanggulangan bencana bisa dilakukan lebih cepat.

Begitu pula pemahaman ketika sebelum, mitigasi, dan setelah bencana. Dia menyebut, edukasi dan simulasi kebencanaan akan dilakanakan secara bertahap. Kini, pihaknya sedang melakukan berbagai persiapan. Tahap pertama melakukan rapat dengan 11 kepala desa dan 11 camat di Aula Wisma Permata, Kompleks Stadion Mashud Wisnu Saputra, Rabu, 15 Mei 2024.

BPBD Kabupaten Kuningan, kata Indra, akan melengkapi sarana dan prasarana mitigasi
kebencanaan dan simulasi di tingkat desa yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan
dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk dengan beberapa SKPD.

“Tidak hanya BPBD, tapi juga TNI, Polri, instansi pemerintahan, pemerintah kecamatan,
pemerintah desa serta pihak-pihak lainnya,” kata Indra Bayu. Sementara itu, Penjabat Bupati Kuningan, Iip Hidajat, mengingatkan masyarakat agar punya kesadaran untuk senantiasa menjaga dan merawat alam.

Ketika kita merawat alam, kata Iip, maka alam pun akan merawat kita. Filosofi itu harus ditanamkan di lingkungan masyarakat agar tumbuh kesadaran untuk merawat alam.

Bencana bisa saja terjadi akibat ketidaksengajaan, keteledoran, dan kesalahan manusia.
Misalnya, menebang pohon sembarangan, padahal pohon itu berfungsi sebagai penahan tanah dan lain sebagainya. “Beragam cara untuk merawat alam, dengan cara dan gaya masyarakat masing-masing daerah harus ditanamkan,” kata Iip.***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat