kievskiy.org

Miris ART Korban Penganiayaan di KBB hanya Terima Gaji Satu Kali

Ibu kandung Rohimah, Ikah bersama adik Rohimah, Ela, berharap Rohimah cepat sembuh dan pelaku penganiyaan akan mendapatkan hukuman seberat-beratnya.
Ibu kandung Rohimah, Ikah bersama adik Rohimah, Ela, berharap Rohimah cepat sembuh dan pelaku penganiyaan akan mendapatkan hukuman seberat-beratnya. /Pikiran-Rakyat/Aep Hendy

PIKIRAN RAKYAT - Rohimah (29), asisten rumah tangga (ART) warga Kecamatan Limbangan, Garut memang memiliki kisah yang sangat menyedihkan. Ia bukan hanya mengalami penyiksaan oleh kedua majikannya tapi juga tak mendapatkan haknya.

Adik Rohimah, Ela Yulia (20), mengisahkan nasib kakaknya yang tragis selama menjadi ART di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Rohimah sudah bekerja menjadi ART di rumah majikannya selama empat bulan akan tetapi ia baru satu kali menerima gaji.

"Ia sudah empat bulan bekerja sebagai ART di rumah majikannya yang di KBB itu. Tapi ia baru menerima gaji satu kali, itu pun dipotong alias tidak utuh," tutur Ela.

Baca Juga: 4 Tanda Bahasa Tubuh Pasangan Ingin Putus, Awas Jangan Overthinking!
.
Menurut Ela, berdasarkan pengakuan kakaknya, seharusnya ia menerima gaji sebesar Rp2 juta setiap bulannya, sesuai perjanjian. Namun ternyata ia hanya menerima gaji Rp1,5 juta dan selain uang itu, kakaknya tak pernah menerima lagi padahal ia sudah bekerja selama empat bulan.

Dengan demikian, katanya, kakaknya itu belum menerima gaji selama tiga bulan. Hal ini tentu sangat disesalkannya, apalagi kemudian kakaknya malah menjadi korban penganiayaan oleh majikannya.

"Perbuatan majikan kakak saya itu sudah sangat keterlaluan dan kami tentu tidak akan bisa memaafkannya. Kami berharap majikan kakak saya itu mendapatkan hukuman seberat-beratnya akibat perbuatannya yang sangat kejam dan tak berprikemanusiaan," ujarnya.

Baca Juga: Gejolak Kecemburuan Sosial Warnai Pembagian STB di Kabupaten Bandung yang Tak Merata

Ela juga menyebutkan jika selama ini pihak keluarga sangat kesulitan untuk berkomunikasi dengan korban. Terakhir kali ia berkomunikasi dengan korban sekitar satu bulan yang lalu dan saat itu korban memberitahu kalau dirinya telah dianiaya oleh majikannya.

Sementara itu kuasa hukum korban, Asep Muhidin, membenarkan jika selama ini kliennya sangat sulit berkomunikasi dengan keluarganya. Terakhir, korban bisa berkomunikasi dengan adiknya sebulan yang lalu.

"Sebenarnya saat terjadi komunikasi terakhir sekitar satu bulan yang lalu, korban sudah memberitahu kalau dirinya telah diperlakukan kasar oleh majikannya. Namun sejak saat itu, pihak keluarga tak bisa lagi berkomunikasi dengan korban," kata Asep.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat