kievskiy.org

ITB Kembangkan Ventilator Portabel yang Lebih Murah dan Praktis

ILUSTRASI Ventilator.*
ILUSTRASI Ventilator.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT - Tim Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan sebuah ventilator portabel untuk menangani pasien COVID-19 dengan menggunakan teknologi ambu-bag (kantong udara) yang disebut alat Airgency (Emergency Automatic Bag-Ventilator). Airgency digunakan untuk penanganan pasien COVID-19 yang telah berada di tahap tiga atau tahap paling kritis. Pasien telah mengalami disfungsi paru-paru sehingga tidak dapat bernapas.

Airgency menerapkan teknologi ambu-bag, karena lebih murah dan dapat diproduksi dalam jumlah massal. Apabila dibandingkan dengan ventilator lain, yang memiliki harga mencapai ratusan juta, ventilator dengan ambu-bag seharga harga jutaan rupiah.

Salah satu anggota peneliti Yazdi mengatakan, kelebihan Arigency yakni kepraktisannya karena ambu-bag yang digunakan bekerja secara otomatis. Petugas medis tidak harus menekan ambu-bag terus-menerus untuk membantu pernapasan pasien. Ambu-bag yang tidak bekerja secara otomatis dapat menyebabkan petugas medis kelelahan, sehingga risiko terpapar COVID-19 menjadi tinggi.

Baca Juga: Selama PSBB, Sektor Usaha di Luar Pengecualian Masih Beraktivitas

"Airgency juga dapat ditujukan bagi pasien yang harus berpindah ruangan dan tetap harus menggunakan ventilator," kata Yazdi dalam siaran pers yang diterima Pikiran-Rakyat.com Minggu 26 April 2020.

Tim Dosen ITB yang mengembangkan alat tersebut di antaranya, Christian Reyner M.T., Dr. Khairul Ummah, Dr. Yazdi I. Jenie, dan Dr. Djarot Widagdo dari FTMD ITB, serta Muhammad Ihsan dari FSRD ITB.

Dalam proses perancangannya, tim bekerja sama dengan PT. BETA (Bentara Tabang Nusantara). Sebelum melakukan perancangan Airgency, tim Dosen ITB terlebih dahulu berdiskusi dengan tim dokter dari Universitas Padjadjaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Baca Juga: Panja Penanganan COVID-19 DPRD KBB Sarankan BLT Ketimbang Sembako

Airgency difungsikan dengan menekan ambu-bag terlebih dulu lalu mengatur kinerja Airgency. Ada tiga pengaturan utama, yakni pengaturan volume tidal, pengaturan rasio penarikan nafas (inhale), dan pembuangan nafas (exhale) serta pengaturan tekanan.

Selain itu dalam Airgency terdapat fitur keselamatan untuk mendeteksi kegagalan mekanik yang nantinya akan menampilkan peringatan apabila terjadi kegagalan. Airgency juga dilengkapi dengan cadangan baterai, sehingga apabila terjadi hubungan pendek arus listrik, maka sumber daya Airgency akan langsung tergantikan dengan sumber daya baterai.

Baca Juga: Karantina Seorang Diri di Gedung Sekolah, Wanita India Diperkosa 3 Orang Pria

Terdapat juga sistem sensor tekanan untuk mengetahui tekanan yang masuk ke paru-paru manusia dan fitur deteksi pernapasan. Christian Reyner menambahkan, proses perancangan desain Airgency dilakukan dalam kurun waktu satu hingga dua pekan hingga tahap pembuatan purwarupa. Selama perancangan desain alat, tim dosen ITB juga melakukan koordinasi dengan tim dari RSHS.

Saat ini, purwarupa Airgency dalam tahap sertifikasi oleh BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan) Kementerian Kesehatan, tim dokter Universitas Padjadjaran dan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama satu sampai dua pekan kedepan.

Baca Juga: Imbas Pandemi Covid-19, Percepat BLT agar Daya Beli Tak Semakin Anjlok

“Setelah lolos sertifikasi, selanjutnya akan dilakukan produksi sebanyak 10 - 20 Airgency. Untuk pembuatan Airgency dengan skala cukup kecil dibutuhkan waktu satu minggu,” ujar Christian.

Airgency direncanakan digunakan di rumah sakit di Bandung dan sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan pula Airgency akan diproduksi ke daerah yang mengalami kekurangan alat medis dalam penanganan kasus COVID-19. ***

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat